Rabu, April 08, 2009

Teks Drama

CINTA DUA ZAMAN

Drama ini mengisahkan tentang Jhony, Saprol dan James yang berhasil masuk ke dalam kehidupan masa lalu secara tiba-tiba. Kegitaan memancing yang mereka lakukan berubah menjadi sebuah petualangan di sebuah kerajaan Melayu yang pernah ada sangat lama sebelum kehidupan mereka ada. Peristiwa ini terjadi setelah Jhony membaca sebuah mantra yang ditemukan di sungai tempat mereka memancing.Dalam petualangan mereka itu, mereka tinggal bersama dengan raja dan permaisuri pemimpin kerajaan melayu. Mereka meminta bantuan raja untuk menemukan cara agar mereka dapat kembali.

Selama tinggal di sana mereka bertemu dengan Putri yang cantik bernama Putri Dara Juanti. Ketiganya ingin mendapatkan hati putri dan menikah dengan putri. Sang raja sulit untuk memutuskan, dan berkat ide dari penasehat kerajaan, diadakan pertandingan untuk mendapatkan pemenang yang kemudian akan menikahi Putri Dara Juanti. Tapi, akhirnya sang pemuda yang mencintai putri Dara Juanti akhirnya harus meninggalkan Putri Dara Juanti.

Dengan . . .

Sutradara : Irwan Sugianto

Ide dan Skenario : Irwan Sugianto

Penulis Naskah : Klara Arinta

Para Pemain :

Ari Sandie Sebagai Jhony

Nikson F. Saefban Sebagai Saprol

Kristianus Rendra Sebagai James

Ilkam Purwanto Sebagai Raja Gusti Paku Negara

Berlian Tri Yanie Sebagai Permaisuri

Witri Sebagai Putri Dara Juanti

Zainurrahman Sebagai Pak Sulaiman

Lilis Susanti Sebagai Susan (Ibu Jhony)

Kustiani Sebagai Siska (Tante Jhony) dan Gadis Melayu

Guntur Setyo Sebagai Danurwendra (Penasehat Raja)

Almi Indah P. Sebagai Dayang Meih (Teman Putri Dara Juanti)

Klara Arinta Sebagai Ayong Ara

Junry Octo E. Sebagai Bujang Malaka (Pengawal Kerajaan)

Irwan Sugianto Sebagai Julonk dan Ahli Mantra Kerajaan

Inilah drama dengan judul: CINTA DUA ZAMAN. Selamat membaca….!

LATAR I :

Teras rumah Saprol.

ADEGAN I :

( Tampak Saprol duduk tengah membaca Koran dengan serius. James lewat di depan rumah Saprol dengan serta merta menyapa Saprol. )

James : “Woooi prol….!! Asik bener baca korannya…” (saprol terkejut)

Saprol : “Wooi….james…!!! Buat aku kaget aja. . .” (James duduk di sebelah Saprol )

“Dari mana aja udah lama nih nggak kelihatan batang idung mu. . .”

James : “Oooh…baru aja dari rumah. . .emang sengaja mau mampir kesini aku . . . Nggak ganggu kan . . . ?”

Saprol : “Yaa enggak lah . . . apa aja kegiatan mu akhir - akhir ini ? Aku dengar usahamu makin maju yaa. . .?”

James : “Yaa. . .begitulah . . . sebulan ini aku disibukkan dengan perkebunan yang baru aku buka. . .

Pusing aku kenanya. . .bis banyak banget hambatannya. . .”

Saprol : “Tenang aja brow. . .rileeeks. . .Refreshing kek biar kamu nggak tegang gini. . .”

James : “Yaa. . .aku memang udah mikirinnya. Aku pengen bersantai ria akhir minggu ini tapi nggapain yaa. . .enaknya ?”

Saprol : “Hmmm. . .” (bergaya seperti orang binggung)

“Haa . . . . Bagaimana kalau kita memancing di sunggai di kampongku . . . ? Sesekali memancing di tempat yang begitu kan asyik, gimana?”

James : “Waaah . . . ide bagus prol . . . !!” (menepuk bahu saprol)

“Tumben kamu pinter . . . kapan kita perginya ?”

Saprol : “Bagaimana kalau besok pagi . . . ?”

James : (mengangguk - angguk setuju) “Boleh saja . . .” (tiba - tiba ingat sesuatu) “Rasanya ada yang kurang nih !”

Saprol : “Aapa . . . ?” (sambil mengerutkan dahi)

James : “Ah . . . masa kamu nggak merasa ? Nggak afdol kan kalau si jhony nggak ikut . . . “

Saprol : “Ya ! Benar banget ! kita ajak aja dia biar rame . . . Kamu punya nomor hp nya ?”

(James mengeluarkan HP dari sakunya. Memencet beberapa tombol )

James : “Ya, ini aku punya nomornya, aku telpon dia sekarang yaa . . .”

(James menelfon Jhony)

James : “Hallo, Jhon . . . ! Bisa kerumah Saprol sekarang nggak . . . ?”

(seperti sedang menunggu jawaban )

“Ada yang ingin aku sampaikan, sob . . . !”

“Ooh, baiklah. Besok aku dan Saprol mau pergi memancing di kampungnya Saprol . . . Mau ikut nggak ?

(ekspresi senang)

“Khey , bagus ! Kami tunggu besok dirumah Saprol yaa . . . jam 6 pagi ? Don’t be late ! Bye . . . !!

(menekan tombol pada handphone)

“Siiip . . . Jhony mau dia ikut kita besok “

Saprol : “Wah, bagus kalau begitu. Besok pasti seru. “

James : “Harus itu.”

“Kalau begitu aku pulang dulu yaa . . . ?” (sambil melangkah keluar dan melambaikan tangan )

Saprol : “Yaa, sampai ketemu !” (membalas lambaian)

LATAR II :

Di rumah Jhony pada pagi hari.

ADEGAN II :

Narator : Pagi itu, Saprol, James dan Jhony telah siap untuk berangkat memancing. Mereka akan berpamitan dengan Ibu Susan, mama Jhony.

(Saprol, James dan Jhony berdiri di teras rumah, berpamitan dengan mamanya Jhony dan ada tantenya Jhony)

Jhony : “Mama, Jhony dan teman - teman pergi memancing dulu yaa . . . “

Susan : “Mau mancing ikan dimana Jhon . . . ?”

Jhony : “Kami mau memancing di kampungnya Saprol mam . . . .”

Susan : “Mau mancing keributan yaa . . . !!”

Jhony : “Aah . . . mama, bisa aja . . .” (sambil tersenyum)

(Tiba - tiba tantenya Jhony muncul)

Siska : “Udah dibawa semua belum perbekalannya ?”.

Jhony : “hmmm . . . udah semua kok tant, kayaknya . . .! (serius) “Eh . . . tant ntar kalau masih ada yang kelupaan anterin yaa buat Jhony”.

Siska : “Iyaa . . . nanti pasti tante sama mama anterin kok . . .”

Susan : “Ya udah, berangkat sana . . . Kesiangan nanti nyampai di Sunggainya kan keburu nggak ada ikan . . .”

Jhony : “Iyaa, mam ! Kami berangkat dulu yach . . .?”

(Jhony mencium tangan ibu dan tantenya, yang kemudian di ikuti oleh James dan Saprol)

Jhony, Saprol dan James : “Daa . . . mama, tante . . .!!”

(mereka melangkah meninggalkan rumah menuju sunggai yang ada dikampungnya Saprol)

LATAR III :

Tepi sungai. Pagi hari dengan cuaca cerah.

ADEGAN III :

(Jhony, James dan Saprol duduk di pinggiran sungai. Memancing dan mereka mulai bosan karena belum ada satupun ikan yang memakan kail mereka)

James : “Udah lama gini kok belum dapat - dapat sih ikannya . . . !!” (bersikap gusar)

Jhony : “Sabarlah . . . Ini dia seninya memancing. Iya nggak Prool ?”

Saprol : “Iya, lagian airnya ini sepertinya terlalu tenang. Mungkin aja ikannya pada bobo atau mungkin saja umpan kita kurang lezat.”

(Beberapa saat mereka terdiam)

Jhony : “Aku curiga sesuatu !”

Saprol dan James : “Apa ?” (Bersamaan)

Jhony : “Aku curiga kalau sekarang ikan sudah ganti makanan faforit yaah . . .?? Dulu memang cacing. Tapi, sekarang Burger, Hot Dog, Bakso . . .”

James : “Huhh . . . !! Sekalian bawa restro aja deh ! (setengah kesal)

Saprol : “Ada - ada aja kamu tu Jhon . . . Kalau ikannya kamu sih aku percaya !” (sambil tertawa)

Jhony : “Lu kate gue ikan ?”

(tiba - tiba pancing milik James bergerak - gerak)

James : “Woi . . . ! Sepertinya ikan udah makan umpanku nih !” (penuh semangat menarik pancingnya)

(Saprol dan Jhony menunggu sampai pancing keluar dari dalam sungai. Ternyata yang tersangkut pada kail James adalah sebuah kantung kain dan mereka semua bingung bercampur terkejut)

James : “Apa ini . . . ?” (membolak balikkan kantong tersebut, kemudian memberikan kapada saprol , Saprolpun memperhatikannya)

Saprol : “Kita buka aja yaa . . .?” (membuka kantong itu)

Jhony : “Yaa . . . buka aja.”

(dari dalam kantong tersebut mereka menemukan gulungan kertas tua dalam plastic. Plastik itu di buka dan ditemukan tulisan di dalamnya terdapat bahasa yang aneh dan tidak mereka mengerti)

James : “Apa ini . . . ? Surat apa ?”

Saprol : “Entahlah . . .” (Jhony meraih surat tersebut dan mengejanya perlahan - lahan)

Jhony : ” Awab imak ek naajarek namaz uyalem uluhad”.

(tanah bergetar, asap menyelubungi mereka dan mereka hilang dari zamannya)

LATAR IV :

Jalan desa, beberapa orang desa lalu lalang

ADEGAN IV :

Narator : Mereka tiba di tepi jalan pedesaan yang masih banyak terdapat hutannya. Daerah itu begitu asing untuk mereka. Kehadiran mereka membuat orang-orang yang lewat ditempat itu meliat mereka dengan aneh dan menjadi takut.

(Mereka bertiga tiba di suatu tempat yang masih banyak hutan. Beberapa orang lalu lalang memandang aneh kehadiran mereka bertiga, karena dandanan mereka yang lain. Mereka bertiga kebinggungan)

(Lewat dua orang dayak )

Ayong ara: “Eweh tu na ?” (sambil bergidik ngeri)

Julonk : “Diak ku tawa . “

(keduanya pergi meninggalkan tempat tersebut seperti orang ketakutan. Jhony, James dan Saprol bingung melihat tingkah laku kedua orang dayak tersebut. Lalu beberapa saat kemudian lewat lagi sepasang orang melayu)

Gadis Melayu 1 : “Sopai tuk kak . . .? Soram adek ngeronong e beh.”

Gadis Melayu 2 : “Ajom tau dek . . .! Urang ajom waras kali’ am . . . Kita pogi buh de’ . . . !”

(kedua gadis itu meninggalkan tempat tersebut dengan agak ketakutan dan Jhony, James serta Saprol pun semakin kebingungan sedang di mana mereka)

James : “Kita dimana ?” (kebingungan dan setengah ketakutan)

Saprol : “Entah aku juga tidak tahu.” (kebingungan)

Jhony : “Apa mungkin kita kembali ke masa lalu ?” (lebih tenang dari yang lain)

James : “Kamu jangan bercanda ! bagaimana mungkin dizaman kita yang sudah maju ini lalu kita bisa balik kemasa lalu ?”

Jhony : “Tapi, sepertinya memang begitu. Lihatlah ! tidak seperti di zaman kita.” (mereka bertiga memperhatikan orang - orang yang lewat di depan mereka)

Saprol : “Yaa . . . sepertinya kita kembali ke masa lalu !”

James : “Oh my God ! Apa yang harus kita lakukan sekarang ? Aku ingin pulang ! Aku tidak mau tinggal disini !”

Jhony : “Tenanglah !” (dengan nada agak tinggi) “Kita tidak bisa berfikir kalau kita panik begini !” (menarik nafas untuk mengendalikan emosi dan setelah agak tenang ia bicara kembali) “Bagaimana kalau kita tanyakan saja kepada orang - orang yang lewat saja ?”

Saprol : “Usul yang bagus ! tapi apa kira - kira mereka mengerti apa yang kita bicarakan ?” (hening sejenak dan beberapa saat kemudian lewatlah seorang penduduk)

Jhony : “Maaf pak , kalau boleh tahu. Kami ini di mana ?”

(Penduduk tersebut dengan tenang memperhatikan ketiga pemuda tersebut dengan penuh rasa heran beberapa saat, baru kemudian menjawab dengan datar)

Pak Sulaiman : “Ini kampung melayu dan dayak “ (sikap waspada tetapi dingin. James dan Saprol menarik nafas lega karena ada yang mengerti bahasa mereka).

Jhony : “Melayu ?” (dengan penuh rasa heran)

Pak Sulaiman : “Iyaa . . . ini kampong melayu yang di dalamnya terdapat suku melayu dan suku dayak yang hidup rukun. Yang mulia Gusti Paku Negara raja kami.”

James : “Ayo, tunjukkan sama kami jalan keluar dari kampong ini . . . ! Kami ingin kembali ke tempat asal kami pak . . . !!” (tidak sabaran menguncang - guncang bahu pak Sulaiman, Jhony berusaha melerai )

Jhony : “Tenanglah James ! kita tidak perlu tergesa - gesa . . .”

Pak Sulaiman : ” Kalian Siapa?”

Jhony : “Perkenalkan pak, saya Jhony dan ini teman-teman saya James dan Saprol. Bapak ini siapa ya?”

Pak Sulaiman : ” Saya Sulaiman, masyarakat biasa. Namun dulu pernah berkerja di kerajaan. Kalian berasal dari mana ?”

Saprol : “Kami dari zaman modern. Sebelumnya kami tengah memancing ikan dan tiba - tiba kami menemukan kantung yang di dalamnya terdapat kertas dengan satu kalimat yang tidak kami mengerti. Setelah kami membaca kalimat tersebut, kami tiba - tiba saja berada di sini. Bapak tau jalan keluar dari sini ?”

Pak Sulaiman : “Zaman modern ? Apa itu ?” (bingung tapi tetap tenang dan sangat waspada)

Saprol : “Zaman modern adalah suatu daerah yang sudah maju. Dimana semua kegiatan sudah tersentuh dengan tekhnologi yang canggih - canggih. “

(pak Sulaiman berexpresi tidak mengerti)

James : “Zaman modern itu adalah tempat yang kehidupannya lebih gampang. Misalnya saja ada mobil, kereta api, pesawat terbang, dan masih banyak lagi. Ayo pak ! beritahu kami di mana jalan keluar dari kampung ini untuk kembali ke tempat asal kami ?”

(James setengah memaksa . Jhony pun mencoba menahannya)

Pak Sulaiman : “Tidak ada jalan keluar dari kampung ini yang dapat mencapai tempat itu.” (sikap dingin)

James : “Apa ? Tidak ada ? Bagaimana mungkin ?!” (setengah tidak percaya dan emosi)

Jhony : “Tenanglah . . . barangkali bapak ini memang tidak mengerti tempat yang kita maksud.”

Pak Sulaiman : “Memang tidak ada jalan keluar dari kampung ini.”

Jhony : “Lalu bagaimana nasib kami . . . ? Tolong bantu kami untuk pulang pak . . .” (memohon dengan sangat)

Saprol : “Iya . . . tolong kami pak ! kami mau pulang . . .”

Pak Sulaiman : “Tidak ada satupun jalan keluar di kampung yang dapat menuju ke tempat mu.”

James : “Hei bung ! Jangan bercanda ! Bagaimana hal itu bisa terjadi ?!” (emosi )

Pak Sulaiman : “Gulungan kertas yang kalian temukan sesungguhnya ialah mantra kutukan. Hanya orang dengan hati yang tulus yang dapat membawa kalian kembali.”

Saprol : “O M G P D A”

James dan Jhony : “Apaan tuuh . . . ??” ( kompak )

Saprol : “Oh My God Please Deh Aaah . . . !”

James : “Uuh . . . kirain ! Jhon, sekarang kita harus gimana ?”

Jhony : “Entahlah, aku juga bingung.” (sesaat berfikir) “Pak, bisa kami bertemu dengan raja kerajaan ini sekarang . . . ?”

Pak Sulaiman : “Tentu saja.”

Jhony : “Kalau begitu antarkan kami sekarang.”

Pak Sulaiman : “Baiklah, ikutlah dengan ku.”

(semua melangkah keluar panggung. Pak Sulaiman ada di depan yang lain mengikutinya)

LATAR V :

Bagian dalam kerajaan. Dua buah bangku untuk singasana raja. Raja duduk bersama ratu.

ADEGAN V :

Narator : Di dalam kerajaan raja dan permaisuri kerajaan melayu sedang berbincang-bincang.

Raja : “Permaisuri ku . . .” (dengan nada bijaksana)

Permaisuri : “Iya kandaku . . .” (mesra)

Raja : “Senang rasanya melihat kerajaan ini makmur dan tentram.”

Permaisuri : “Iyaa . . kanda . . . semua ini berkat kerja keras kanda membangun kerajaan ini. Sudah selayaknya kanda merasa bangga.” (Raja turun dari tempat duduk dan berekspresi sedih)

Raja : “Tapi ada hal yang aku sedihkan dinda . . .”

Permaisuri : “Apa itu kanda ?” (Penuh perhatian) “cerita kan pada dinda, sayang . . .”

Raja : “Tidakkah dinda merasa kalau usia kita semakin tua ? Siapa yang akan mengantikan posisiku kelak ? Sedangkan anak kita perempuan semata wayang. Walaupun ilmu kepemimpinan telah aku ajarkan, tetap saja aku mendambakan pemimpin laki - laki di kerajaan ini.”

Permaisuri : “Aku mengerti kanda. Tapi perempuan juga dapat memimpin. Asalkan kanda percaya, aku yakin putri kita mampu memimpin kerajaan ini.”

Raja : “Iya, dinda ku . . . Mungkin ini hanya ke khawatiran kanda saja. Aku percaya, siapapun yang memimpin kerajaan ini, asalkan berhati bersih dan tulus mengabdi tentu akan membawa perubahan yang baik bagi rakyat kita.”

(Menghadap ratu dengan senyuman lalu duduk kembali)

(tiba - tiba Bujang Malaka datang membawa kabar).

Bujang Malaka : “Ampun Yang Mulia, ada tamu yang ingin bertemu dengan yang mulia sekarang.” (Berlutut dan memberi hormat dengan raja)

Raja : ” Siapakah tamu ku itu?”

Bujang Malaka : ” Maafkan hamba Yang Mulia, hamba tidak mengenali mereka. Mereka hanya inngin bertemu dengan Yang Mulia.”

Raja : ” Baiklah. Suruh mereka supaya masuk.”

Bujang Malaka : ” Baik Yang Mulia.” (Pengawal mundur ke belakang dan melangkah keluar. Beberapa saat kemudian Pak Sulaiman masuk ke dalam di ikuti oleh Jhony, James dan Saprol. Pak Sulaiman member hormat dan berlutut, diikuti oelh Jhony, James dan Saprol )

Pak Sulaiman : “Maafkan hamba yang Mulia, telah berani lancang datang menemui Yang Mulia ke kerajaan ini. “

Raja : ” Maaf saya terima. Duduklah.”

(Pak Sulaiman, Jhony, James dan Saprol duduk bersila menghadap raja)

Raja : ” Siapakah kalian ini sampai datang kemari ingin menemuiku?”

Pak Sulaiman : ” Perkenalkan Yang Mulia, hamba bernama Sulaiman. Sedangkan ketiga pemuda ini adalah Jhony, James dan Saprol. Hamba hanya masyarakat biasa. Ketika melintasi jalan desa, hamba bertemu dengan mereka. Mereka berasal dari zaman modern, sebuah tempat yang belum pernah ada pada masa ini.”

Raja :” Zaman Modern?” (dengan nada heran)

Pak Sulaiman : ” Ya, Yang Mulia. Mereka telah membaca mantra kutukan. Mantra kutukan itulah yang membawa mereka hingga kemari. Dan maksud kedatangan mereka ke kerajaan ini mohon petunjuk dari Yang Mulia agar mereka dapat kembali ke zaman mereka.”

Saprol : ” Ya, Yang Mulia. Kami ingin kembali ke tempat asal kami.”

(Suasana hening sebentar. Raja memikirkan jalan keluarnya)

James : ” Apakah tidak ada cara untuk kami kembali Yang Mulia?”

Raja : ” Sayang sekali. Dahulu mantra itu belum ada penawarnya. Belum ada yang pernah berhasil memecahkan misteri mantra itu. Pernah ada yang mengatakan bahwa orang yang baik dan berhati tulus yang dapat memecahkan mantra itu. Namun sampai saat ini belum ada yang mampu, sehingga mantra itu akhirnya di buang. Tidak ada yang menyangka kalau akan ada yang menemukan. Akan aku bicarakan hal ini dengan Danurwendra, Penasehat kerajaan ini.”

Jhony : “Terima kasih Yang Mulia. Tapi sekarang, bagaimana dengan nasib kami semua? Kami tidak punya tempat tinggal apa lagi sanak saudara…”

Raja : ” kalian tenang saja. Untuk sementara ini kalian dapat tinggal di kerajaan ku.”

Jhony : “Kami semua mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia karena telah menerima kami di sini.”

Raja : “Iya, sudah demikianlah layaknya kita saling membantu.”

Pak Sulaiman : ” Kalau begitu Yang Mulia, hamba mohon diri. Tugas hamba mengantarkan ketiga pemuda ini sudah selesai.”

Raja : ” Baiklah Pak Sulaiman. “ (Pak Sulaiman meninggalkan kerajaan) “Kalian bertiga akan diantarkan oleh Bujang Malaka, pengawal kerajaan ini menuju ke kamar kalian.” (memanggil pengawal) “Pengawal?”

Bujanng Malaka : “Hamba Yang Mulia.” (sambil berlutut dan member hormat)

Raja : ” Antarkan tamu-tamuku ini ke kamar tamu kerajaan dan perintahkan pegawai kerajaan lainnya untuk menjamu mereka.”

Bujang Malaka : ” Baik Yang Mulia.”

(Bujang Malaka diikuti oleh Jhony, James dan Saprol keluar panggung)

LATAR VI :

Taman kerajaan.

ADEGAN VI :

Narator : Sore itu, James, Jhony dan Saprol berjalan-jalan bersama di taman kerajaan. Mereka ingin menikmati keindahan alam di kerajaan itu.

James : “Gilaa… Aku nggak nyangka banget Raja Akan sebaik ini dengan kita.”

Saprol : ” Iya, aku juga. Raja percaya banget sama kita.” (kemudian memandangi sekitar taman) “wah… asri juga pemandangannya… iya nggak Jhon?” (menepuk bahu Jhony dan Jhony terkejut karenanya)

Jhony : “Eh, iya, iya.” (tergagap karena kaget) “Udara disini masih benar-benar segar dan sejuk.” (tiba-tiba menghenntikan langkah dan menmunngut sesuatu dari tanah) “Apaan nih?” (sambil memperhatikan benda tersebut, diikuti oleh James dan Saprol)

James : “Ooohhh… Ini sih bros namanya. Itu lho yang biasa dipake cewek-cewek di baju.”

Saprol : ” Coba kamu yang pake.” (sambil pura-pura menyematkan bros tersebut ke baju James)

James : ” Ich! Lebai….” (sambil bergaya seperti orang yang jijik terhadap sesuatu, kemudian melepas bros tersebut dan memberikannya kepada Jhony) “Nih, simpan!”

Jhony : “Buat apa nyimpan ginian?”

James : “Buat jampe-jampe! Hahahaha…”

(Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul Putri Dara Juanti dan kedua temannya yaitu Ayong Ara dan Dayang Meih sedang mencari sesuatu di tanah. Putri Dara Juanti kelihatan sangat khawatir)

Dara Juanti : “Aduh… Tadi di sekitar sini… Masa’ nggak ada sih?” (sambil terus mencari-cari sesuatu, diikuti oleh kedua temannya tersebut)

Dayang Meih : “Kamu yakin jatuhnya di sini? Nggak ketemu nih…”

Dara Juanti : “Iya, aku yakin… Uuh… mana sih…”

Ayong Ara : ” Kalau nggak ada gimana? Mungkin aja kan udah di ambil orang…”

Dara Juanti : ” Aduh, Ra…. Aku sayang dengan bros itu…”

Ayong Ara : “Yaa… Mau gimana lagi kalau nggak ketemu gini… “

Dayang Meih : ” Benaran hilang nih…”

Dara Juanti : ” Meih..” (Dara Juanti hampir menangis. Jhony mendekati ketiga gadis itu.)

Jhony : ” Nyari ini?” (sambil memberikan bros itu kepada Dara Juanti)

Dara Juanti ; “Brosku!!!” (sambil mengambil bros tersebut dengan girang) “Dimana kalian menemukannya? Aku senang sekali. Terima kasih ya?” (sambil memeluk bros itu)

Jhony : ” Iya, aku tidak sengaja menemukannya. Tadi hampir terinjak olehku.”

Dara Juanti : ” Oya? Yah… bagaimana pun itu, aku tetap berterima kasih. Boleh tahu kamu siapa? Aku Dara Juanti, putri Raja Gusti paku Negara, dan ini Ara dan Meih, teman-temanku.” (sambil bersalaman dengan Jhony bergantian)

Jhony : “Jhony. Kenalkan ini teman-teman ku, James dan Saprol.” (Sambil bersalaman dengan Dara Juanti bergantian.)

James : “Oooohhhh… Ini Putri Raja? Ckckckckck… Cantik…” (setengah menggoda)

Saprol : “Gileeee… cantik banget sih…”

Dara Juanti : ” Kalian ini dari mana? Dandanan kalian tidak seperti orang kebanyakan disini.”

James : “Jadi gini Putri… Kami ini datang dari zaman modern, zaman dimana kehidupan sudah sangat maju. Entah gimana caranya, hanya karena sehelai kertas, kami bisa ada disini dan nggak bisa kembali.”

Dara Juanti : ” oh, begitu ya?” (tiba-tiba mimic Dara Juanti berubah panic) “siapapun kalian, aku berterima kasih karena sudah menemukan brosku. Sekarang aku pergi dulu.” (sambil menggandeng Meih dan Ara)

Saprol : “Eh, mau kemana? Kenapa buru-buru?”

Dara Juanti : “Maafkan aku, tapi kami dilarang berbicara dengan orang asing.” (sambil melangkah setengah berlari keluar panggung bersama Meih dan Ara.)

James : “Yahh… Prol… Pergi…”

Saprol : ” Ah, nanti juga ketemu lagi. Dia kan putri kerajaan ini, tentunya nggak akan jauh dari kerajaan ini. Iya nggak, Jhon?” (sambil menepuk bahu Jhony sehingga membuat Jhony kaget)

Jhony : “Eh, iya, iya..” (tergagap karena kaget)

Saprol : “Nah lho… Naksir ya?”

Jhony : “Nggak.” (Pura-pura)

James : “Ngeles… Saingan ma aku ya?”

Jhony : “Ah, udah! Pulang yuk?”

(Jhony, James dan Saprol meninggalkan panggung)

LATAR VII :

Kamar tidur. James, Jhony dan Saprol berbaring.

ADEGAN VII :

Narator : Ternyata ketiga pemuda itu jatuh cinta dengan Putri Dara Juanti. Malam hari sebelum mereka tidur, mereka masih membicarakan kecantikan sang Putri.

James : “Koq aku nggak bisa berhenti memikirkan Putri Dara Juanti ya? Cantiknya itu lho…”

Saprol : “Iya, aku juga…”

James : ” Eh, gimana kalau aku lamar saja putri itu?”

Jhony : “Nekat banget kamu, James… Belum tentu putri itu mau dengan kamu.”

Saprol : “Bener! Aku setuju, Jhon. Iya kalau putri mau dengan kamu, James. Kalau maunya sama aku? Payah gak kan…”

Jhony : “Uh! Sama aja!”

James : “Ah, aku tetap akan melamar putri. Tampangku cakep banget, masa putri mau nolak?”

Saprol : “Sok Kecakepan lu!”

James : “Eittssss… Jangan salah… Gini-gini James Bond kalah tau?! Pokoknya besok aku akan melamar Putri Dara Juanti. Kalau perlu kita saingan untuk dapatin putri.”

Saprol : “Setuju. Lagian yang naksir sama putri kan bukan kamu aja, aku juga. Gimana, Jhon?”

Jhony : “Yah, terserah aja deh… Tapi resikonya aku nggak ikut tanggung jawab lho.”

James : ” Tapi kamu naksir putri juga kan?”

Jhony : “Iya sih… Tapi kan…”

James : “Ah! Sudah! Pokoknya besok kita sama-sama menghadap raja untuk melamar. Aku nggak sabar ingin secepatnya bersanding dengan putri. Oh… Putri Dara Juanti… I’m Coming…” (Kemudian semuanya tertidur)

LATAR V :

Singgahsana kerajaan.

ADEGAN IX :

Narator : sementara itu raja bersama penasehatnya sedang berbincang-bincang, membicarakan masalah kerajaan beserta kehadiran Jhony, James dan Saprol di kerajaan mereka.

Raja : ” Danurwendra, mantra itu ternyata ditemukan oleh pemuda-pemuda yang tadi siang datang ke kerajaan ini. Sedangkan kita tahu tidak ada yang berhasil keluar dari negeri ini dengan mantra itu. Bagaimana menurutmu?”

Danurwendra : “Ampun Yang Mulia. Hamba telah mendengar perihal kehadiran pemuda-pemuda itu di kerajaan kita. Sebagai solusinya, bagaimana kalau kita buatkan sebuah anti-mantra? Ini semacam mantra yang fungsinya membersihkan mantra yang telah ada.”

Raja : “Hmmmm… Ide yang baik. Siapa yang akan membuatnya?”

Danurwendra : “Hamba akan memerintahkan Ahli Mantra kerajaan kita untuk membuatnya, Yang Mulia.”

Raja : “Baik, perintahkan kepada Ahli Mantra kerajaan untuk membuatnya.”

Danurwendra : ” Baik, Yang Mulia. Kalau begitu hamba mohon pamit.”

Raja : “Ya, silahkan.”

(Danurwendra meninggalkan panggung)

ADEGAN X :

(Putri Dara Juanti memasuki panggung bersama permaisuri. Permaisuri duduk di samping raja, putri menyesuaikan)

Dara Juanti : “Ayah…” (Dengan nada manja)

Raja : “Iya, Putri ku… Ada apa?”

Dara Juanti : ” Ayah dan Ibu, aku senang sekali hari ini.”

Permaisuri : “Apa yang membuat kamu senang seperti ini, Putri ku?”

Dara Juanti : “Ayah dan Ibu, sepertinya aku sedang mengalami hal yang orang sebut jatuh cinta…”

Permaisuri : “Jatuh cinta? Pria mana yang berhasil merebut hati mu itu, Dara?”

Dara Juanti : “Dia Jhony, seorang yang berasal dari zaman modern, Bu…”

Raja : “Jadi kamu sudah bertemu dengan pemuda-pemuda itu?”

Dara Juanti : “Iya, Yah… Ayah nggak suka ya?”

Raja : “Bukan begitu, Putri ku… Mereka orang asing, jadi berhati-hatilah. Jaga sikap dan sopan santunmu!”

Permaisuri : “Benar Dara yang dikatakan ayah. Kamu perempuan, tidak selayaknya kalau kamu mengumbar kata cinta terlebih dulu. Biar lelaki itu yang datang dan menghampirimu.”

Dara Juanti : “Iya, ibu… ayah… Dara mengerti…”

Raja : “Sekarang pergilah tidur.”

Dara Juanti : ” Baik, Yah.”

(Dara Juanti meninggalkan panggung, diikuti oleh raja dan permaisuri)

ADEGAN XI :

Narator : Keesokan harinya, Jhony, James dan Saprol datang menghadap raja untuk melamar putri Dara Juanti.

(Raja dan permaisuri duduk di singgahsana. Jhony, James dan Saprol duduk bersila menghadap raja. Hadir pula disana Danurwendra)

James : “Jadi yang Mulia, kami bermaksud untuk melamar Putri Dara Juanti.”

Raja : “Kalian bertiga? Bagaimana mungkin aku menikahi putri ku dengan kalian semua sekaligus?”

Saprol : “Untuk itu, kami mohon kebijaksanaan raja…”

Raja : “Dinda, bagaimana ini?”

Permaisuri : ” Maafkan dinda… Tapi dinda rasa ini sulit diputuskan. Kita juga tidak bisa membiarkan Dara Juanti untuk memilih, karena dia akan melanggar adat kita. Kita minta saja pendapat penasehat kerajaan, kanda…”

Raja : “Terima kasih, dinda… Danurwendra, apakah pendapatmu terhadap hal ini?”

Danurwendra : ” Ampunkan hamba, yang Mulia. Menurut hemat hamba, kita selenggarakan saja sebuah pertandingan, yaitu pertandingan berbalas pantun. Siapa yang memenangkan pertandiangan tersebut, dialah yang akan mendapatkan Putri Dara Juanti.”

Raja : “Oh, ide yang bagus. Segera saja kita laksanakan pertandingan ini. Barangsiapa yang berhasil memenangkan pertandingan ini, akan menikah dengan putriku. Kalian setuju?”

Jhony, James, Saprol : “Ya, kami setuju.” (kompak)

Narator : Segera setelah itu pertandingan di selenggarakan. Disaksikan oleh masyarakat beserta kerabat kerajaan, pertandingan itu berlangsung. Setelah diundi, James dan Saprol mendapat kesempatan pertama dalam pertandingan. Pemenangnya akan bertanding lagi dengan Jhony dan dari bagian ini, pemenangnya akan menikahi Putri dara Juanti.

Saprol : “Buah kenari buah delima,

Dimakan bersama kulit-kulitnya.

Bertanding di sini karena Putri Dara

Pulang saja pasti aku pemenangnya”

(penonton memberikan tepuk tangan)

James : “Pergi memancing ikan gurameh,

Dapat seekor disimpan di balik batu

Jangan coba anggap aku remeh

Belum tau siapa aku…”

(penonton memberikan tepuk tangan)

Saprol : “Beli nanas sekeping dapat lima,

Kalau dimakan terasa sungguh manisnya

Mungkin aku tak sehebat kesatria

Tapi hanya aku yang mampu membuat putri jatuh cinta”

(penonton memberikan tepuk tangan)

James : “Buah nanas dimakan buaya,

Tapi kulitnya diberikan ikan.

Mungkin kamu bisa buat Putri jatuh cinta,

Tapi Putri Dara belum tentu cinta, ‘kan?”

(penonton memberikan tepuk tangan)

Saprol : “Duh…. Aku nggak bisa jawab lagi… Aku nyerah…”

Danurwendra : “Baiklah. Dengan begitu pertandingan pertama ini dimenangkan oleh James.” (penonton memberikan tepuk tangan) “Selanjutnya James akan bertanding dengan Jhony. Pemenangnya akan menikah dengan putri. “

James : “Pergi ramai-ramai mencari gading,

Gading dicari karena banyak yang membeli.

Untuk apa ikut bertanding?

Sudah pasti aku yang dapatkan hati Putri.”

(penonton memberikan tepuk tangan)

Jhony : “Banyak orang mencari gading,

Untuk dijadikan perhiasan di jari.

Tentu aku akan tetap bertanding,

Karena aku sungguh mencintai putri.”

(penonton memberikan tepuk tangan)

James : “Bawa jerami dengan tali,

Jerami disusun banyak sekali.

Kalau memang mencintai Putri,

Apa yang akan menjadi bukti?”

(penonton memberikan tepuk tangan)

Jhony : “Anak tupai makan kenari,

Burung pipit memakan jambu biji.

Apa saja akan jadi bukti,

Jiwa raga ini ku pertaruhkan juga sampai mati.”

(penonton memberikan tepuk tangan)

James : “Sudah, aku nyerah. Jhony memang hebat.”

Danurwendra : “Dengan demikian, pertandiangan ini dimenangkan oleh Jhony.” (penonton memberikan tepuk tangan) “Selanjutnya, keputusan akan diberikan oleh raja.”

Raja : “Terima kasih… Hasil pertandingan ini adalah akhir dan aku tidak akan mengingkari janji. Jhony akan menikah dengan Putri ku, Putri Dara Juanti. Bagaimana Putri ku, kamu bersedia menikah dengan Jhony?”

Dara Juanti : “Ayah, aku menerima hasil pertandingan ini…”

Raja : “Selamat Jhony, bersandinglah dengan Putriku.” (sambil menjabat tangan Jhony. Penonton memberikan tepuk tangan. Jhony bersanding dengan Putri Dara Juanti. Tiba-tiba datang Ahli Mantra Kerajaan ingin menyampaikan kabar.)

Ahli Mantra : “Ampunkan hamba, yang Mulia. Hamba datang ingin menyampaikan sesuatu.”

Raja : “Ada apa?”

Ahli Mantra : “Hamba telah berhasil menemukan anti-mantra yang diminta oleh yang Mulia. Pemuda dengan hati yang tulus di antara mereka bertiga yang dapat membawa mereka kembali dengan anti-mantra tersebut.”

Raja : “Bagaimana aku bisa tahu siapa di antara mereka yang berhati paling tulus?”

Ahli Mantra : “Menurut Ahli Nujum Kerajaan ini pemuda itu adalah yang memenangkan pertandingan ini, karena dialah yang paling sungguh dan paling tulus mencintai Putri Dara Juanti.”

Raja : “Kalau begitu, Jhony-lah orangnya.”

Putri Dara Juanti : “Apakah itu artinya Jhony akan meninggalkan ku, ayah?”

Raja : “Maafkan ayah… tapi Jhony memang harus kembali.”

Jhony : “Maafkan aku, Putri… tapi kenyatannya kita memang berasal dari dua zaman yang berbeda. Aku memang mencintaimu, tapi kehidupanku bukan disini, aku harus meneruskan hidup di tempat asalku… Maafkan aku Putri… Aku harus meninnggalkanmu…” (sambil memegang kedua tangan Putri. Putri menangis. Jhony melepasakan genggaman tangan. Kemudian bergabung dengan James dan Saprol untuk bersiap-siap menggunakan anti-mantra.)

Jhony : (membaca anti-mantra tersebut) “awab imak ilabmek “ (seketika mereka bertiga lenyap. Panggung ditutup)

Narator : Demikianlah akhirnya, James, Jhony dan Saprol kembali ke zaman modern dengan anti-mantra dan meneruskan kehidupan mereka.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Bila ada kesamaan nama, tempat dan kejadian, itu hanya kebetulan saja. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

T A M A T

2 komentar:

chemistry club mengatakan...

menyebalkan,,masih juga dapet D...

Nanang Tio Andika mengatakan...

tq y kak . . .
mayan lah tuk tugas . . .walaupun panjang kayak kereta api